Monday, February 2, 2015

Negeri Sejuta Masalah

"Like a string of jewels in a coral sea, the 1300 islands of the Indonesia archipelago stretch almost 5000 km from the Asian mainland into Pacific Ocean. And like jewels the islands have long represented wealth", (artinya: laksana untaian zamrud di suatu laut koral, 1300 pulau-pulau kepulauan Indonesia membentang 5000 km mulai dataran Asia sampai kepulauan Pasifik, sejak dulu menyimpan kekayaan yang tiada terkira). Itulah kalimat awal yang terdapat dalam buku panduan pariwisata setebal 900 halaman yang berjudul "Indonesia".

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, serta memiliki kebanggaan sebagai negara kepulauan terluas didunia dengan luas wilayah darat dan lautnya 2,5 kali benua Australia. Sayangnya Indonesia tidak pernah berhasil mengoptimalkan kekayaan alamnya itu. Indonesia selalu disibukkan dengan berbagai permasalahan pengembangan bangsa. Perubahan politik dan sosial yang tidak menentu semakin membuat bangsa ini dalam posisi yang dilematis dan kompleks.

Ditinjau dari aspek kebangsaan atau nasionalisme, Indonesia masih dalam kondisi yang memprihatinkan. Masyarakat masih belum bisa menerima perbedaan dan tenggang rasa antar sesama warga negara. Konflik-konflik kekerasan yang mengarah pada disintegrasi bangsa masih sering terjadi dan banyak yang masih belum terselesaikan dengan baik hingga saat ini.

Demokrasi Indonesia juga belum berada dijalur yang tepat. Jika demokrasi adalah peaceful resolution of conflict, Indonesia malah cenderung melakukannya dengan cara-cara yang tidak demokratis, seperti mob politics, money politics, dan cara-cara undemocratic lainnya. Jika salah satu esensi demokrasi dan politik adalah "art of compromise" dan menghormati perbedaan, kita justru menyaksikan semakin tingginya sikap primordialisme dikalangan elit politik dan masa. Lebih parahnya lagi sikap itu sering disisipi sentimen keagamaan dan teologis oleh kalangan ulama, sehingga semakin meningkatkan potensi terjadinya kekerasan.

Dari sisi HAM, ribuan kasus pelanggaran HAM sejak 1960-an sampai sekarang masih belum terselesaikan dengan baik. Kasus pelanggaran HAM yang paling sering terjadi adalah tindakan kekerasan yang dilakukan oleh aparat negara dengan alasan demi menjaga keamanan. Aparat dengan sewenang-wenang melakukan penggusuran paksa, memukuli para demonstran, dan sebagainya.

Pengaruh politik Indonesia di kancah internasional pun tidak kuat. Indonesia telah kehilangan Timor Timur yang merdeka melalui referendum tahun 1999 lalu dan telah kehilangan kepulauan Sipadan-Ligitan kepada Malaysia melalui keputusan Mahkamah Internasional tanggal 17 Desember 2002. Indonesia juga memiliki masalah batas wilayah dengan negara lain, seperti dengan Singapura untuk pulau Nipah, dengan Malaysia untuk kepulauan Bintan, dengan Filipina yang mempermasalahkan batas ZEE, dengan Vietnam untuk kepulauan Sekatung dan pulau Kondor, dan dengan Timor Leste untuk perbatasan darat dan laut.

Dalam konteks kewarganegaraan, masih terdapat peraturan yang bersifat diskriminatif yang dialami oleh masyarakat minoritas. Mereka sering dihadapkan pada permasalahan kemiskinan, pendidikan yang rendah, sulit mencari lapangan pekerjaan dll. Yang mana hal ini seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Dengan melihat realita ini, marilah kita sama-sama berbenah mulai dari diri sendiri. Dan pemerintah harus lebih peka terhadap semua permasalahan yang ada serta mencari jalan penyelesaian terbaik. Mari secara perlahan tapi pasti kita jadikan negeri ini menjadi negeri yang kuat dan dihormati dunia.

No comments:

Post a Comment