Dunia game smartphone sekarang ini sedang keranjingan game baru bernama Pokemon Go, sebuah game berbasis augmented-reality yang dikembangkan oleh Pokemon Company bekerja sama dengan Nintendo dan Niantic.
Mereka yang memainkannya bepergian ke berbagai lokasi untuk menangkap monster-monster lucu bernama Pokemon. Ada yang berjalan kaki, berlarian nggak karuan, naik kendaraan pribadi bahkan sampai mengorder ojek online hanya supaya bisa menangkap Pikachu dan teman-temannya itu (wow emeijing).
Lalu kalau sudah ditangkap mau diapakan? kamu harus melatih Pokemon yang ditangkap itu dan meningkatkan levelnya agar semakin kuat. Setelah itu kamu bisa berkompetisi dengan membuat Pokemon saling bertarung atau kamu bisa saling bertukar Pokemon. Semakin banyak koleksi Pokemonmu maka akan membuat perasaan jadi bangga dan senang.
Menarik kan, tapi game ini hanya untuk ponsel berbasis Android dan iOS saja dan saat ini belum tersedia di Google Play Store dan Apple App Store di Indonesia. Jadi bagi kamu yang masih menggunakan ponsel Blackberry pasrahlah jadi penonton.
Showing posts with label Teknologi. Show all posts
Showing posts with label Teknologi. Show all posts
Sunday, July 17, 2016
Wednesday, February 4, 2015
PLN Payah!
Di daerah tempat tinggal orang tua saya di desa Tandun, kabupaten Rokan Hulu, Riau listrik seakan tidak bisa diandalkan. Dalam sehari pasti ada saja pemadaman listrik, bahkan terkadang sampai lebih dari dua kali dalam sehari dengan lama pemadaman yang tidak menentu. Kalau di Jakarta biasanya PLN akan memberikan informasi apabila ada pemadaman listrik maka disini tidak ada, PLN dengan seenaknya melakukan pemadaman. Masih mending kalau waktu padamnya bisa ditebak, ini tidak. Sering kali disaat sedang membutuhkan listrik seperti malam hari tiba-tiba mati lampu, ini jelas membuat emosi.
Di jaman modern seperti sekarang ini, listrik sudah menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling asasi. Artinya sesuatu yang mutlak adanya dan tidak boleh tidak ada. Hampir semua sektor perekonomian baik makro maupun mikro sangat bergantung pada listrik. Jadi bisa dibayangkan berapa kerugian yang dialami jika pasokan listrik terputus.
Di jaman modern seperti sekarang ini, listrik sudah menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia yang paling asasi. Artinya sesuatu yang mutlak adanya dan tidak boleh tidak ada. Hampir semua sektor perekonomian baik makro maupun mikro sangat bergantung pada listrik. Jadi bisa dibayangkan berapa kerugian yang dialami jika pasokan listrik terputus.
Thursday, January 15, 2015
IQ Tinggi Bukan Segalanya
IQ (Intelligence Quotient) adalah ukuran standar kecerdasan manusia yang dihitung berdasarkan perbandingan antara tingkat kemampuan mental (mental age) dengan tingkat usia (chronological age). Albert Einstein adalah seorang ilmuan yang IQ-nya disebut-sebut lebih dari 160, berapa IQ anda? Berapapun tingginya IQ anda, itu tidak bisa dijadikan tolak ukur dalam pencapaian kesuksesan. IQ hanya berperan dalam lingkup studi dan pendidikan tetapi tidak berpengaruh besar dalam jenjang karir dan pekerjaan seseorang. Tidak percaya? Banyak sekali orang yang memiliki IQ tinggi dan sukses dalam studi tetapi kurang berhasil dalam karir. Seseorang yang memiliki IQ tinggi mungkin akan dengan mudah mendapatkan pekerjaan yang layak pada perusahaan ternama, tetapi itu tidak akan menjamin karirnya akan sukses diperusahaan itu.
Untuk menapaki tangga karir ada unsur lain yang lebih berperan daripada IQ. Misalnya seberapa jauh seseorang bisa bekerja dalam tim, seberapa mampu dia menenggang perbedaan, dan seberapa luwes dia berkomunikasi dan menangkap bahasa tubuh orang lain. Hal ini bisa didapat dari pengalaman berorganisasi.
Untuk menapaki tangga karir ada unsur lain yang lebih berperan daripada IQ. Misalnya seberapa jauh seseorang bisa bekerja dalam tim, seberapa mampu dia menenggang perbedaan, dan seberapa luwes dia berkomunikasi dan menangkap bahasa tubuh orang lain. Hal ini bisa didapat dari pengalaman berorganisasi.
Thursday, December 11, 2014
Wajah Versi 2.0
Pada jaman Sukarno dulu tidak ada yang namanya aplikasi mengedit foto seperti sekarang ini. Foto wajah manusia pada masa itu pun terlihat natural dan bebas dari berbagai bentuk rekayasa. Itulah wajah pada jaman penjajahan, anggap saja wajah saat itu wajah versi 0.2. Sangat jauh berbeda dengan jaman Zuckerberg sekarang ini, era Web 2.0. Saat ini orang semakin gemar mengutak-atik foto wajahnya dengan bermacam aplikasi agar terlihat lebih menarik, anggap saja itu wajah versi 2.0.
Lihat saja yang terjadi di berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook, Instagram, dsb. Banyak sekali foto perempuan-perempuan cantik dan pria-pria tampan yang bisa menggoda pikiran anda. Tentu saja tidak semua foto-foto itu memberikan informasi yang sesungguhnya.
Seperti yang dialami salah seorang teman saya. Dia mengajak seorang teman perempuan yang ada di Facebooknya untuk bertemu di suatu pusat perbelanjaan, dan dia menyesal setelah mengetahui kalau ternyata wajah perempuan itu tidak seperti yang dia bayangkan. Wajah versi 2.0 sebaiknya jangan langsung dipercaya, banyak sekali hasil rekayasa komputer.
Lihat saja yang terjadi di berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook, Instagram, dsb. Banyak sekali foto perempuan-perempuan cantik dan pria-pria tampan yang bisa menggoda pikiran anda. Tentu saja tidak semua foto-foto itu memberikan informasi yang sesungguhnya.
Seperti yang dialami salah seorang teman saya. Dia mengajak seorang teman perempuan yang ada di Facebooknya untuk bertemu di suatu pusat perbelanjaan, dan dia menyesal setelah mengetahui kalau ternyata wajah perempuan itu tidak seperti yang dia bayangkan. Wajah versi 2.0 sebaiknya jangan langsung dipercaya, banyak sekali hasil rekayasa komputer.
Subscribe to:
Posts (Atom)

